Horror: Sorop Sang Penghuni Rumah Perempuan Desa

0
282

Image Hosted by NyPediawp

@bacahorror pertama kali saya dengar cerita ini dari sebuah pesan Dm di twitter. seorang perempuan yg ingin bercerita tentang pengalamannya saat ia pertama kali bersentuhan dengan penghuni di dalam rumahnya.

awalnya saya tidak tertarik, bagi saya sendiri setiap rumah pasti ada penghuninya.namun saya tetap antusias untuk mendengarkan ceritanya, satu persatu kepingan ingatan yg pernah ia alami ia ketik dalam pesan pendek email dan saya baca satu persatu, masih belum tergugah dengan ceritanya hingga mata saya berhenti pada satu titik kalimat yg membuat saya tiba-tiba-begitu tertarik.

satu kalimat yg seakan merubah presepsi saya pada sebuah cerita rumah berpenghuni yg klise karena apa yg akan kalian baca ini bukan sekedar cerita hantu melainkan sebuah cerita yg benar-benar akan menjadi salah satu cerita paling berkesan teruntuk saya sendiri.”Sorop” itu adalah ketikan kalimat yg membuat saya tiba-tiba berpikir untuk menemuinya, berbicara langsung dengan kontributor saya dan di sini perstiwa itu akan saya ceritakan sedetail mungkin.

cerita tentang tenggelamnya matahari dan membangunkan mereka semua.butuh waktu 5 jam untuk sampai ke kota kontributor saya, berbekal lokasi tempat kita berjanji yg tiba-tiba di batalkan karena beliau ingin saya melihat langsung rumahnya. saya tidak keberatan karena saya juga ingin melihat rumah yg akan saya ceritakan nanti.sampailah saya di rumah itu. hal pertama yg saya rasakan tentang rumah itu tidak berbeda jauh seperti rumah kebanyakan hanya saja rumah ini memanjang di bandingkan meluas dengan tatanan pintu kamar di satu lorong panjang yg langsung menuju pawon (dapur).saya duduk dan memandang kontributor saya. rumah ini hangat tidak sedingin yg dia ceritakan, dan ekspresi wajah kontributor saya hanya tersenyum sembari mengangguk sebelum ia berbicara pelan-sangat pelan nyaris membuat saya membungkuk untuk mendengarkan, “mereka di sana”kontributor saya menunjuk satu pintu. benar saja, ada satu pintu yg terlihat menggelitik saya karena hanya pintu itu yg memiliki geligik seakan pernah di bakar sebelumnya. kayunya sudah rapuh namun di gembok dengan kuat.

“itu adalah kamar pak de yg saya ceritakan mas”seketika bulukuduk saya berdiri, mungkin karena saya sudah mendengar cerita ini sebelumnya dari email yg kontributor saya kirim.

“pak de mu sing iku” (pak de kamu yg itu) kata saya dan dia mengangguk.

saya mengangguk berusaha mengerti.satu jam saya menunggu di rumah itu, berbicara dan bertanya banyak hal dan dia menjawabnya sesuai dengan email yg ia kirim, terbesit pertanyaan yg pasti keluar terlebih bila seseorang mengalami gangguan hingga sesinting itu.

“lapo gak di dol ae omahe mbak?” (kenapa gak di jual?)kontributor saya hanya menunduk. tepat setelah saya bertanya itu ia langsung menunduk seakan pertanyaan saya gak sepantasnya dipertanyakan tentu saja saya sendiri menyesal karena saya spontan dari rumah yg awalnya bagi saya biasa saja namun perlahan mampu membuat bulukudukberdiriuntungnya, perempuan lain yg saya tunggu datang. ia melihat saya dan setelah tahu siapa saya dia langsung duduk tanpa mengembalikan tasnya terlebih dahulu ke kamar, dia menatap saya ragu sebelum mulai mengatakan kepada saya bahwa cerita yg kakaknya ketik tentang rumah ini-benar adanya.

semua itu di mulai saat “pak de kulo peja” (paman saya meninggal)”nduk mantuk yo, wes talah sepuroen pak de mu, kabeh keluarga wes sepakat, omah iki ngunu hak-mu, timbang merantau ngunu mbok di urus ae omahmu iki” (nak pulang ya, sudah lah maafkan pak de mu, semua keluarga sepakat, rumah ini hak kalian, daripada merantau begitu mending–rumahmu ini di urus)
Image Hosted by NyPediawp
Isti nama perempuan itu, berbekal telephone di wartel setempat ia melirik kakaknya, Hanif.

Hanif menggeleng seakan menolak untuk kembali, apa yg menimpa keluarganya tepat setelah kematian orang tuanya tidak akan pernah ia lupakan terlebih perlakukan-dari keluarga ayahnya. “ngapunten bu lek, kulo kale mbak boten purun mbalik nek tasik enten pak de kale bu de” (maaf tante, saya dan kakak saya gak akan kembali kalau masih ada om sama tante di rumah itu)

hening. tak beberapa lama Isti menutup telepone, wajahnya pucat.”lapo Is?” (kenapa is?) tanya Hanif, wajah adiknya masih sangat pucat.

“pak de sakaratul maut mbak, bu de minggat, bu lek kepingin kene muleh” (pak de sakaratu maut, sedangkan bu de pergi dari rumah, bu lek ingin kita pulang)

Malam itu juga, Isti dan Hanif pulang.selama di perjalanan Hanif dan Isti saling melihat satu sama lain, entah kenapa setelah mendengar kabar itu keduanya justru tidak tenang seakan ada yg membuat mereka ketakutan. “bener sing di omongno bulek?” (bener yg di omongin bu lek)

Isti mengangguk.”iyo mbak, jare pak de mutah getih, trus nyelok-nyelok jeneng’e kene ambek” (iya mbak, katanya pak de muntah darah, trus dia manggil-manggil nama kita sama-) Isti terdiam lama, “Sorop”

Hanif tidak lagi melihat Isti, ia memilih melihat ke jendela kereta, sudah lebih dari 14 jam-perjalanan mereka, dan sebentar lagi mereka akan tiba tepat ketika matahari akan tenggelam, cahaya kemerahan di barat terlihat begitu mencolok.

Hanif masih ragu apakah ia siap melihat wajah pak de setelah apa yg mereka perbuat kepada dirinya dan adiknya.rumah itu memang tak seharusnya di pertahankan bila akhirnya menjadi seperti ini.di stasiunt, seorang lelaki kurus melambaikan tangan, Hanif dan Isti mendekatinya sebelum mencium tangannya.

“ayok ayok, kabeh wes ngenteni” ucap si lelaki kurus, namanya Supri tetangga sekaligus orang yg dulu paling dekat dengan almarhum orang tua mereka.

“pak de yo opo mas?”(pak de gimana mas?)

Supri yg tengah menyetir mobil tidak langsung menjawab. wajahnya khawatir, “ra eroh” (gak tau)

Isti dan Hanif hanya saling melihat satu sama lain, belum terlalu jauh dari stasiunt tiba-tiba hujan deras turun, wajah Supri semakin khawatir. “pertondo elek”mobil tua itu tetap menerjang meski hujan semakin deras dan langit mulai menggelap. tepat maghrib mereka sampai di depan rumah yg sudah di penuhi warga kampung.

Isti dan Hanif turun dari mobil sebelum mengucap terimakasih pada Supri, Hanif menyadari ada yg salah dari wajahnya.”ati-ati yo” (hati-hati ya) kata Supri yg membuat Hanif terdiam lama, “wes-wes ndang mrono, bulek wes ngenteni” (bu lek mu sudah menunggu, sudah sana)

berlari di atas tanah berlumpur sebelum di sambut warga kampung, Isti dan Hanif menuju bu lek yg sudah menunggu.”mrene nduk” (kesini nak) kata bu lek, ia merengkuh badan Isti dan Hanif sebelum menuntunnya menuju sebuah kamar kedua dari ruang tengah, di sana orang-orang yg tengah mengaji tiba-tiba keluar saat melihat Isti dan Hanif.

“monggo mbak” ucap mereka saat meninggalkan.Hanif dan Isti saling melihat satu sama lain, suara dan wajah orang yg baru saja mengaji terdengar ketakutan, di dalam kamar ada sebuah kloso (tikar tenun) di atasnya ada seseorang yg mereka kenal.

Pak De, ia terbujur diam. saat Isti dan Hanif sudah ada di dalam kamar,tiba-tiba, bu lek melangkah keluar sebelum menutup pintu kamar itu.Hanif menggedor gedor pintu, namun dari luar bu lek terus berteriak. “wes nduk sepuroen pak de mu dilek, ben kabeh mari” (sudah nak, maafkan pak de mu dulu biar semuanya selesai)

Hanif masih menggedor pintu, bingung, tiba-tiba Isti menyenggol Hanif ia berujar lirih, “pak de”lelaki paruh baya itu bangun dari tempatnya. ia merangkak mendekati Hanif dan Isti yg tersudut di depan pintu.

namun, Hanif menyadari tubuh gempal pak de nya yg dulu kini seperti tulang yg di balut kulit kering. dari hidung dan mulutnya, dia terus memuntahkan darah.bola matanya sudah memutih nyaris seperti orang yg sudah lama mati.

dia menatap Hanif dan Isti sebelum bersujud di depan mereka. meminta maaf sambil tetap menangis, meraung. pak de yg mereka kenal arogan dulu tiba-tiba seperti anak kecil, ada satu kalimat yg tidak-bisa Hanif dan Isti lupakan.

“umbarno pak de mati nduk, ben pak de gak nang kene maneh” (biarkan pak de mu mati nduk, biar pak de gak di sini lagi) wajahnya memohon, Hanif dan Isti ketakutan sembari kebingungan, Hanif yg pertama mengangguk ia sudah memaafkan,tepat setelah mengatakan itu, pak De jatuh dan konon akhirnya bisa meninggal.

bu lek membuka pintu dan memeriksa bersama warga, setelah di pastikan benar pak De gak ada, terlihat semua orang tampak lega. hal yg aneh tentu saja, bagaimana orang bisa bersyukur saat ada yg matiterjadi perdebadan setelahnya. bu lek meminta agar pak De langsung di kuburkan saat itu juga namun warga menolak, hujan deras masih terjadi, sedangkan tanah kuburan akan di penuhi air dan lebih baik memang di lakukan esok hari, bu lek akhirnya menyerah ia menatap dua keponakannyawarga meninggalkan rumah, bu lek membawa Hanif dan isti ke kamarnya setelah mengunci pintu tempat pak De di baringkan.

hujan deras masih turun. Hanif menatap kamarnya yg dulu, rumah ini seharunya menjadi milik mereka bila saja bukan karena. Hanif terdiam, ia menoleh melihat Istirumah ini di buat dari bata lama, dengan di poles warna putih, di sana-sini beberapa bagian temboknya sudah retak, jarak antara lantai ke langit-langit cukup tinggi, lebih tinggi dari rumah pada umumnya, alasannya karena semakin tinggi langit-langit hawa dingin rumah kian terasa.setelah lelah mengamati bagian-bagian kamar yg sudah lama tidak mereka lihat, Hanif menuju kasur tempat Isti sedang melamun.

“mikir opo is?” (lagi mikirin apa?)

Isti seperti terkejut, ia menatap kakaknya seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dirinya ragu. “gak mbak””yo wes, mbak turu sek yo. ojok turu bengi-bengi” (ya sudah, mbak tidur dulu ya, jangan tidur malam-malam)

Hanif menutup mata, Isti masih seperti melamun. namun, belum lama Hanif memejamkan mata, Hanif tiba-tiba terbangun, di dalam kamar tiba-tiba terasa sangat dingin.Hanif terbangun mencoba mencari selimut namun ia baru sadar, adiknya Isti tidak ada di sampingnya.

Hanif terhenyak sejenak, saat pintu kamarnya tiba-tiba berderit terbuka, Hanif menatap pintu itu, terpikir di dalam kepalanya apakah adiknya pergi ke kamar mandi.Hanif melangkah keluar kamar, ia berdiri sendirian di lorong, setelah menatap ke kiri dan kanan, Hanif mendengar suara perempuan menangis. suaranya familiar terdengar seperti suara bu lek.

Hanif mulai berjalan pelan menuju sumber suara.aroma melati tercium begitu menyengat, dari telinga Hanif suara itu bersumber dari ruang tengah. suara itu begitu menyayat, Hanif melangkah begitu pelan, dan di sana ia melihat bu lek tengah duduk membelakanginya dengan daster putihnya. ia tersedu-sedu sendirian di ruang tengah.kini Hanif berdiri di ujung lorong, batas antara ruang tengah, Hanif belum memanggil bu lek namun tiba-tiba suaranya yg manangis pilu tiba-tiba berganti menjadi suara tawa yg seperti orang sinting, dan belum selesai sampai di situ Hanif melihat pemandangan lain dari ujung lorongdi ujung lain lorong perbatasan antara pintu pawon (dapur) Hanif melihat seorang nenek bungkuk dengan badan tengah menggendong bayi, ia menggeleng pada Hanif yg membuat Hanif tersentak sebelum melihat ke kursi itu lagi, sosok itu lenyap-begitupula si nenek itu.namun, dari pintu tempat pak De di kunci, Hanif mendengar suara Isti seperti sedang mengobrol dengan seseorang.

Hanif pun mendekati pintu pak De, berusaha membukanya namun sayang pintu di kunci. karena suara itu benar-benar terdengar di telinga Hanif ia mengintip dari lubang.di sana, pak De tengah duduk bersila dengan wajah pucatnya ia menatap ke tempat Hanif mengintip, di belakang, Isti sedang memijat badannya yg kurus kering.

pak De melambaikan tangan seakan tahu keberadaan Hanif, ia memanggil-manggil Hanif.Hanif terhenyak dari tempatnya, ia menggedor-gedor pintu itu seperti tengah kesetanan, mendengar suara yg Hanif keluarkan tiba-tiba pintu kamar bu lek terbuka, wanita paruh baya itu mendekati Hanif bertanya ada apa.

Hanif menunjuk pintu dan mengatakan Isti ada di dalam.kaget mendengar penuturan Hanif, bu lek mengeluarkan kunci dari kantongnya sebelum membuka pintu.

pintu terbuka, di sana Hanif menyaksikan pak De masih terbujur kaku di atas tikar tenun. tak bergerak sama sekali.

Hanif menatap bu lek berusaha menjelaskan namun bu lek pucat.Hanif menatap bu lek yg seperti terpaku melihat ke atas, Hanif pun mengikuti namun di sana ia tak melihat apapun, namun bu lek segera mengatasi situasi, ia menarik Hanif keluar dari kamar, sebelum mengunci pintu kamar.

namun dari gelagat wajahnya, bu lek masih melihat ke atas.bu lek mangantarkan Hanif kembali ke kamar, di sana Isti tengah tidur di atas kasur.

“iku adikmu” (itu adikmu) kata bu lek, Hanif hanya mematung memandang adiknya yg meringkuk sembari terlelap tidur. bu lek pun pamit namun Hanif tiba-tiba bertanya. “onok opo mau nang dokor?”(ada apa tadi di atas?)

bu lek yg berniat pergi menatap Hanif terlebih dahulu sebelum mengatakannya sembari menoleh melihat kamar pak De. dengan gemetar bu lek mengatakan,

“onok bu De, gawe klambi putih, longgo nang pian” (ada bu De, lagi duduk di atas pian langit-langit)Hanif terdiam mendengar itu, “tapi bu de kan minggat?” (tapi bu de kan pergi?)

bu lek mendekati Hanif sebelum berbisik, “wes wes, bu lek kedelengen, pikiran bu lek mumet, gak usah di pikirno, turu’ ae, yo nduk” (sudah sudah, bu lek lagi banyak pikiran, gak fokus, tidur saja ya)Hanif kembali ke tempatnya, setelah melihat Isti ia meringkuk sebelum ikut terlelap tidur.

namun malam itu, rupanya masih belum di mulai. karena kejadian setelahnya, Sorop baru akan di mulai.pagi itu, ramai semua tetangga datang melayat pun dengan jenazah pak De yg sudah di sholati, Hanif sempat mencuri dengar bu lek berbicara dengan seorang lelaki tua yg mengenakan baju putih dan mengenakan kopyah hitam. mereka membahas perihal bagaimana rumah ini kedepannya.ada dialog yg membuat Hanif tertegun ketika mendengarnya saat bu lek bertanya perihal rumah. benar. rumah ini memiliki sesuatu yg sepertinya memiliki hubungan antara dirinya dan seluruh anggota keluarganya.

“ojok di dudui. menengo” (jangan di kasih tau. diam aja dulu)setidaknya hari itu berakhir. langit sore lebih merah dari biasanya, sedang adzhan maghrib selesai berkumandang. tak terlihat seperti mau gelap namun bisik orang-orang yg sudah berdatangan di rumah membuat Hanif dan Isti merasa tak nyaman. mereka berbisik tentang Sorop.setiap kali Hanif bertanya perihal itu, bu lek pasti mendesis seakan hal itu tabuh untuk di bicarakan. Hanif dan Isti hanya saling melihat tak mengerti maksud orang-orang.

sekarang. langit kemerahan itu sudah berganti menjadi kegelapan total. Isti mengamati sesuatu di luar rumah”onok opo Is, kok ket mau nyawang cendelo?” (ada apa Is, kok dari tadi lihat jendela?) tanya Hanif pada adiknya yg usianya hanya terpaut 3 tahun darinya.

“igak mbak, aku ketok-ketoken onok wong nang dalan ndelok’i omah e kene” (gak ada mbak, tadi aku mungkin salah lihat ada….orang berdiri di jalan kayak sedang mengamati rumah kita)

mendengar itu, Hanif ikut mengintip namun tak di dapati apapun selain pekarangan kosong dengan tumbuhan rimbun di sekitarnya.

“gak onok Is” (gak ada is)

mereka segera menutup gorden jendela.setelah mengunci jendela, Isti dan Hanif tercekat melihat bu lek sudah mengenakan jaket, “nduk, bu lek mau pulang, wes gak popo kan?”

Hanif dan Isti saling melihat, ia bingung wajah bu lek tampak menyembunyikan sesuatu.

“kok gopoh, gak mene tah?” (kok buru-buru, gak besok saja)bu lek menggeleng mengatakan kalau esok dia akan kembali, lagipula belum selesai selepas hari ke tujuh kakaknya. namun tetap saja, bu lek tampak berbeda, tangannya seperti gemetar hebat. Hanif dan Isti tak kuasa mencegahnya. bu lek pun pergi malam itu.sebelum bu lek pergi, Hanif sebagai anak pertama di pasrahi kunci yg semuanya adalah kunci yg di butuhkan di rumah ini. Hanif sempat melihat mata bu lek yg seperti menolak untuk melihatnya, bu lek hanya berpesan agar kamar tempat almarhum pak De lebih baik di biarkan saja kosong.bu lek pun pergi. Hanif langsung mengunci pintu ketika ia berbalik Isti menatapnya kosong, ia mendekati Hanif sebelum berbisik. “mbak sampeyan yo ngerasakno ambek opo sing tak rasakno kan?” (mbak kamu juga merasakan sama seperti yg saya rasakan bukan perihal rumah ini?)Hanif tak lantas berkomentar, ia hanya diam meski kepalanya sedang mengingat kejadian pertama saat menginjak rumah ini, untuk apa Isti tiba-tiba bertanya perihal itu padahal ia tahu sendiri ini adalah rumah mereka dulu, saat bapak dan ibuk masih ada. tapi, Hanif ragu.”pawon e mbak gak kehalang lawang, iku gak apik, ket awal omah iki gak beres posisine, tekan teras mlaku lurus wes ketemu ambek pawon” (dapurnya mbak gak terhalang pintu, itu gak bagus, dari awal rumah ini sudah salah posisinya, bila dari teras hanya berjalan lurus sampai dapur)Isti terdiam lama, “di tambah nang pawon onok si mbah” (di tambah di dapur ada si mbah)

Hanif tercekat saat mendengar Isti bilang itu. “opo is, koen ngomong opo” (apa is, kamu barusan bilang apa)

Isti menggeleng, “onok mbah nang pawon” (ada si mbah di dapur)”koen ngomong opo?” (kamu itu ngomong apa)

Isti menatap Hanif lantas meninggalkannya. “ibuk yg dulu bilang, aku ambil kamar bapak ibuk ya mbak, mbak hanif ambil saja kamar kita”

Isti pergi setelah meminta satu kunci tempat kamar bu lek yg dulu adalah kamar orang tua mereka.setelah Isti masuk ke kamarnya Hanif berjalan menuju kamarnya, posisi ketika ia berjalan menatap lurus menuju pawon (dapur) hal yg membuat Hanif setuju bahwa tata letak posisi rumah ini sudah salah setidaknya harus ada pintu di sana.tepat ketika Hanif membuka handle pintu dari seberang kamar tempatnya yg adalah posisi kamar pak De, Hanif mendengar suara orang bersenandung. senandung suara itu tampak familiar menyerupai bapak saat menina bobokkan Isti dulu. Hanif terdiam, ia menoleh melihat kamar pak De.Hanif segera masuk ke kamar mencoba mengabaikan suara itu sembari ia menuju ranjang tempatnya tidur. malam semakin larut, Hanif berbaring di ranjang setelah menutup tirai putih di sekitarnya. entah sudah berapa lama ia masih terjaga karena sedari tadi Hanif merasa tidak tenang.dari luar suara binatang malam terdengar, Hanif melangkah turun setelah ia tidak sanggup menahan lagi keinginannya untuk buang hajat.

ia membuka pintu, berdiam sebentar di sana namun suara senandung itu sudah tak terdengar lagi.Hanif berjalan menuju pawon meski sempat berhenti di kamar Isti. Hanif ingin membangunkannya agar ada temannya bicara namun Hanif tak enak hati bila harus membangunkan adiknya. ia pun melangkah ke sana sendirian.di pawon ada pintu belakang karena kamar mandi di rumah ini memang terpisah dengan bagian rumah. Hanif melihat ke sekeliling sebelum bergegas mengambil lampu petromaks yg tergantung di tiang pawon, Hanif membuka pintu belakang. perasaan tidak enak itu mendadak kembali.benar saja. kondisi selepas hujan kemarin membuat tanah di belakang pawon berlumpur, kadang Hanif tak habis pikir kenapa kamar mandi tidak di letakkan saja di dalam rumah agar ia tak kewalahan seperti ini namun pikirannya tiba-tiba teralihkan melihat pintu kamar mandi tertutup.Hanif mengetuk pintu berpikir apakah ada orang di sana, hal yg sederhana bila tinggal di kampung seperti ini adalah membuka pintu kamar mandi bila tak ada orang di dalamnya karena memang kamar mandi seperti ini biasa di gunakan tetangga juga. namun anehnya tak ada jawaban.Hanif menggantung lampu petromaksnya masih berusaha mengetuk tapi tetap tak ada jawaban, namun sialnya pintu justru di kunci

kesal melihat itu, Hanif mengetuk semakin keras sampai akhirnya pintu terbuka dengan sendirinya, di dalam, Isti melangkah keluar “sabar to mbak” ucap IstiHanif bernafas lega melihat adiknya, Isti lantas menyingkir dan membiarkan kakaknya masuk ia juga berpesan bahwa akan menunggu Hanif di sana.

“masuk ae, tak enteni nang kene” (masuk saja tak tunggu di sini) ucap Isti, Hanif mengangguk sebelum menutup pintu.di luar Hanif mendengar Isti bersenandung seperti senandung yg Hanif dengar, memang adiknya ini sangat suka bersenandung seperti ini saat sendirian, Hanif merasa tenang ia tidak sendirian saat ia sendiri sebenarnya merasa takut karena tepat di belakang kamar mandi adalah tulanganketika semakin lama, senandung Isti mulai menggema aneh di mana semakin lama ia seperti tersedu-sedu dan perlahan senandungnya terdengar seperti suara menangis namun begitu lirih.

“Isti” teriak Hanif dari dalam, suara itu masih terdengar lirih. begitu membuat Hanif bingung.”mbak iki omah kudu kene jogo yo” (mbak ini rumah harus kita jaga ya) ucap ISti menjawab panggilan Hanif namun suaranya masih bergetar, “mek petang puluh dino, ojok sampe metu teko omah iki” (hanya sampai empat puluh hari jangan sampai keluar dari rumah ini)”is, koen iku ngomong opo?” (Is kamu ini ngomong apa?) tanya Hanif,

“petang puluh dino mbak” (empat puluh hari mbak) jawab Isti.

“Is?”

“petang puluh dino mbak” Isti masih menjawab hal yg sama yg semakin lama semakin keras dan menghentak, “PETANG PULUH DINO MBAK!!”Hanif yg merasa semakin aneh dengan adiknya lantas membuka pintu saat tidak menemukan adiknya di sana.

Hanif bergegas keluar menatap sekeliling kemana adiknya pergi saat tiba-tiba dari samping bilik Isti keluar sembari berteriak “Petang puluh dino” dengan wajah melotot.Hanif segera menarik adiknya masuk, sementara Isti masih berteriak hal yg sama terus menerus. tepat saat di dalam pawon Isti menggeleng-geleng. “aku gorong oleh melbu mbak, aku gorong oleh melbu” (aku belum boleh masuk, belum boleh masuk) sembari menggaruk kulitnya yg memerah.melihat hal itu, Hanif pun semakin bingung dengan kondisi adiknya, lantas Hanif pun berlari ia berniat meminta bantuan tetangga namun saat melewati pintu kamar pak De, Hanif mendengar suara tertawa pak De yg dulu ketika bercanda bersama bapak. namun Hanif memilih mengabaikannya.tepat di luar pintu anehnya, sudah ada orang yg berdiri di sana mengenakan baju setelan putih dengan kopiah hitam yg berbicara dengan bu lek tadi pagi.

si lelaki tua itu seperti menunggu Hanif, tanpa membuang waktu Hanif menceritakan semuanya dan ia melangkah masuk ke rumah.beberapa kali lelaki itu menatap sekeliling rumah seakan ada yg ia lihat, terutama kamar pak De, lelaki itu sempat terdiam lama di depan pintu sebelum kembali berjalan menuju pawon. ia meminta air putih sembari mengangkat tubuh Isti di atas bayang (ranjang kayu)setelah meminumkan air putih Isti mulai tenang dan tidur. sementara si lelaki tua itu berdiri sembari melihat-lihat isi rumah, ia beberapa kali melihat ke tungku tempat biasa memasak, dan sesekali menunduk, ia juga menatap ke langit-langit sebelum menggeleng pada Hanif.”njenengan sing jenenge Hanif. kulo Sugeng tonggone sampeyan” (anda yg namanya Hanif, saya pak Sugeng kebetulan saya tetangga anda) katanya, “wes suwe aku nyawang omah iki, tapi rupane kabehane tambah nemen” (sudah lama aku memperhatikan rumah ini tapi rupanya semakin lama–semakin menjadi-jadi)

pak Sugeng kemudian berjalan menelusuri ruangan demi ruangan, ia masih menggeleng, “nang kene wes akeh sing di kirim, Sorop’ e iki wes kelewatan” (di sini sudah banyak sekali yg di kirim, kejadian Sorop ini sudah kelewatan) ucapnya.

“sorop niku nopo pak?””Sorop iku nek serngengeh wes mudun trus di ganteni ambek bengi, nah, iku ngunu memedi nang omah iki tangi” (Sorop itu ketika cahaya mulai tenggelam dan di gantikan oleh malam saat itu makhluk ini bangun) pak Sugeng menatap kamar pak De, “isok di bukak gak iki?”(bisa di buka ini)pak Sugeng melangkah masuk ke kamar pak De, ia melihat ranjang kosong itu.

“dadi omah iki iku di Sorop ambek wong sing kepingin koen ambek adikmu sing dadi hak waris iku urip loro” (jadi rumah ini di surup sama orang yg ingin kalian yg jadi hak waris jatuh sakit)”pak de mu mati gak wajar, nang lambene onok ali-ali sing sengojo gawe nyorop omah iki” (tau atau tidak, pak de mu meninggal secara gak wajar, di dalam mulutnya di temukan cincin yg sengaja di pakai untuk surup rumah ini) pak Sugeng menatap Hanif mengajaknya keluar”trus yok nopo pak kulo kale adik” (lantas bagaimana saya dan adik saya)Image Hosted by NyPediawp

pak Sugeng menoleh, “gak popo, awakmu ambek adikmu kudu bertahan nang omah iki sampe petang puluh dino, sampek sing Sorop omah iki kenek ganjarane” (gak papa, kamu dan adikmu bertahan saja di rumah ini……sampai empat puluh hari biar yg surup rumah ini kena getahnya)

pak Sugeng kembali ke pawon, ia mengamati Isti kembali, lantas berbicara pada Hanif, “adikmu opo gak nyepuro pak de mu?” (adikmu apa sudah memaafkan pak de mu dulu?)

Hanif menggeleng, ia tidak tahu.pak Sugeng tak butuh jawaban karena sepertinya ia sudah tahu apa yg terjadi.

“aku sing ngongkon bu lek mu moleh, soale pancen gak oleh onok sing melok-melok termasuk aku, tapi ilingo nduk, koen ambek adikmu isok ngelewati iki, dungo, ngaji, sembahyang yo nduk”(sebenarnya saya yg nyuruh bu lek mu pulang, karena memang gak boleh ada yg ikut campur termasuk saya, tapi ingat nduk, kamu dan adikmu pasti bisa melewati, jangan lupa berdoam mengaji dan shalat ya nak) pak Sugeng lantas kemudian melangkah keluar rumah di ikuti Hanif.

Hanif terhenyak saat ia tahu rupanya beberapa warga tengah berdiri di sekeliling rumah menatap mereka.

“warga sini juga tahu apa yg sebenarnya terjadi, tapi kami semua ndak bisa bantu karena ini menyangkut urusan keluarga yg belum selesai”

Comments are closed.