Minggu , Juli 22 2018
Home / Masa Depan / Ilmu Filsafat Sekolah Menengah Berperan Aktif Tangkal Bibit Radikalisme Berkembang

Ilmu Filsafat Sekolah Menengah Berperan Aktif Tangkal Bibit Radikalisme Berkembang

Spread the love

Nyimakdulu| Radikal, menjadi hal yang baru bagi lumrahnya rakyat kita belakangan ini, perlu kita ketahui bahwa radikalisme itu memiliki bahaya laten.

  • Pendidikan Filsafat Sekolah Menengah


Melihat kondisi Indonesia saat ini yang  dilanda radikalisme, terlihat bahwa ada yang tak kalah penting daripada  ekonomi, sains & teknologi.

Sains dan teknologi memang sangatlah penting untuk membuat seseorang  berpikir lebih mendalam lagi, berpikir secara logis dan kritis, akan tetapi objek telaah selalu diluar para siswa.

Untuk mampu menangkal ajaran-ajaran radikal, seorang siswa sangatlah perlu ketrampilan untuk bersikap lebih logis dan kritis kedalam diri sendiri.

Belajar ilmu filsafat membuat seseorang siswa mampu berpikir sangat kritis dan logis, bukan hanya terhadap alam di luar, akan tetapi juga masuk dalam diri sendiri.

Berbeda dengan negara-negara Barat, dimana siswa-siswa sains umumnya sangat kritis, berbeda dengan di Indonesia, malahan siswa sains dikenal condong ke radikalisme.

Itu disebabkan umumnya negara-negara  berkembang, tidak memiliki tradisi keilmuan. Ilmu sains itu hanya dianggap oleh orang indonesia sebagai sepuhan luar dari manusia barat.

Karena sains lebih bersifat deterministik (ideologi hukum karma), sedangkan hal-hal di dunia ini dianggap sudah ditentukan dari sononya dengan dasar hukum alam. Ini mempengaruhi cara pandang.

Dan bagi orang-orang yang berideologi  radikal fundamentalis, ajaran agamapun dianggap deterministik, sudah dari  sononya, harus diterapkan secara literal.

Nggak heran kalau siswa sains di Indonesia, berbeda dengan negara maju. Siswa di Indonesia malah condong radikal, dibanding dengan siswa humaniora (nilai-nilai humanis).

Di negara-negara maju, cara pandang kritis & logis terhadap diri sendiri sudah  merupakan bagian dari cara asuh anak. Tidak demikian di Indonesia.

Karena itulah, penting bagi negara untuk membuat strategi budaya lewat pendidikan dengan menekankan pendidkan filsafat sejak awal, dan seharusnya dimulai sejak sekolah menengah pertama maupun sekolah menengah atas.

  • Negara Penerap Ilmu Filsafat Terbaik


Sistem pendidikan berbasis filsafat terbaik adalah sistem pendidikan di negara PERANCIS. Filsafat wajib dipelajari di sekolah menengah disana.

Perancis secara tegas ingin mengembangkan budaya berpikir dan berbudaya ala filsafat. Sehingga masyarakat berkembang berciri intelektual kritis.

  • Filsafat Sekolah Menengah Itu Wajib

Pendidikan filsafat sekolah menengah bertujuan mengembangkan kemampuan untuk melakukan refleksi personal. Memandang ke dalam diri sendiri.

Kalau pendidikan filsafat sekolah menengah di negara lain cenderung formil, seperti pemikiran Yunani, sejarah filsafat dsb. Perancis tidak begitu.

Sebenarnya bukan pengetahuan filsafat yang  dibutuhkan oleh warga, tetapi KEMAMPUAN BERFILSAFAT, kemampuan secara kritis dan logis melihat ke dalam diri sendiri.

  • Menumbuhkan Kritis Pemula

Siswa secara terus menerus dihadapkan pada pertanyaan seperi ini:

Apakah masuk akal kalau saya menginginkan hal yang tidak masuk akal?

Mana yang lebih baik, kebenaran atau perdamaian?

Apakah bahasa yang saya mengerti mengekang cara saya berpikir saat ini?

Demikian contoh-contoh pertanyaan yang harus dipikirkan siswa setiap hari. Tidak ada jawaban yang benar atau salah, tetapi proses berfilsafatlah yang  diharapkan.

Perlu kita ketahui saat ini jika pelajaran filsafat, yang digandengkan dengan  bacaan-bacaan sastra yang mendalam. Sebuah kekuatan yang besar sebagai siswa yang mampu berefleksi akan sukar dihasut oleh paham-paham radikal sekalipun.

  • Durasi Mempelajari Ilmu Filsafat


Pelajaran filsafat bisa begitu panjang, 8 jam per minggu untuk siswa humaniora, atau hitungan 2 jam untuk siswa sains.

Semua lulusan dari sekolah Perancis harus mampu menulis argumen-argumen berfilsafat secara fasih. Gak mengherankan jika omongan orang Perancis lebih mendalam, bahkan hal ini juga berpengaruh pada hasil karya film-film mereka, yang membuat penonton dari luar perancis untuk meresapinya agar mudah memahami alur dan maksud cerita.

  • Cara Jitu Share Ilmu Filsafat

Pendidikan filsafat juga sejalan dengan  rencana untuk meningkatkan industri kreatif di Indonesia. Indonesia butuh film-film yang lebih berbobot dan sarat dengan kritik logis.

  • Efek Positif Filsafat Untuk Indonesia

Menerbitkan buku-buku, novel dan karya sastra yang berbobot. Akan lebih disukai siswa, karna siswa sudah  terbiasa terlatih untuk berpikir lebih kritis. Pastilah Indonesia akan jadi  bangsa para cendekiawan.

Kedai-kedai kopi akan ramai dengan  obrolan-obrolan asyik, kualitas hidup manusia Indonesia meningkat karena  kualitas manusianya juga meningkat.

Jika negara-negara lain bisa  melakukannya, kenapa Indonesia gak bisa? Jangan jadi bangsa yang hanya tahu ayat-ayat, lalu ngomong “pokoke gini, pokoke gitu…

  • Filsafat Mana Yang Lebih Cocok Diterapkan Di Indonesia?


Setelah berpikir soal situasi saat ini di Indonesia, menurut saya sistim filsafat dari Perancis lah yang lebih bagus untuk mulai diajarkan pada sekolah menengah di Indonesia daripada sistem filsafat  Amerika ataupun Inggris.

Terutama, karena masalah krusial yang terjadi di indonesia ini bukan hanya masalah mencetak tenaga kerja, akan tetapi gimana supaya manusianya tidak saling menhantam satu sama lain, juga  tidak  memaksakan kehendak pada orang lain.

Memang untuk memulai pendidikan filsafat dalam skala besar, sangatlah  sukar di Indonesia. Mulai dari hal sederhana yaitu; Darimana mencari guru berkualitas?

Seorang teman (red-penulis) medsos pernah nyeletuk begini: Filsafat kan ga umum di Indonesia, gimana mau cari guru dsb? Iya, benar sekali ini adalah masalah yang besar.

  • Kenapa Indonesia Sukar Menerapkan Ilmu Filsafat di Sekolah Menengah?

Filsafat nggak umum di Indonesia, karena sistem pendidikan di Indonesia saat ini adalah peninggalan dari sistem pendidikan Hindia Belanda.

Pendidikan Hindia Belanda tidak diperuntukan untuk membuat warga jajahan mampu berpikir luas dan terbuka, tetapi lebih untuk hal-hal yang bersifat praktis agar tidak memiliki pemikiran melawan penguasa, yang pada masa tersebut adalah penjajah.

Seperti sekolah dokter jawa, sekolah guru, sekolah insinyur,dll. Jadi pendidikan negara terjajah umumnya memang bersifat praktis yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Sehingga pendidikan filsafat di Indonesia justru dirintis oleh warga katolik sebagai langkah praktis mendidik calon imam mereka.

Padahal di Eropa, filsafat itu pendidikan umum, karna sudah menjadi tradisi. Ya semoga saja kelak, ilmu filsafat menemukan tempat yang cukup bagus di sanubari pendidikan Indonsia.

Merdeka.

Oleh : @Daemon

Editorial: CCTVNETIZEN

Komentari dgn Facebook

About cctvnetizen

Netizen Julit dan Hobi Ngintip Timeline mu

Check Also

Hilang Saringan Air Underpass Mampang Prapatan.

Spread the love Nyimakdulu|Jakarta, Era Gubernur Baru Tiba, Entah benar-benar kerja atau cuma pencitraan. Mulai …