Minggu , Juli 22 2018
Home / Cerpen / Warisan

Warisan

Spread the love

Jakarta  Tak ada siapapun di ruangan itu selain dirinya sendiri. Seorang pria berkulit pucat duduk di depan jendela raksasa memandangi kota yang tak pernah sunyi. Namun, bisingnya jalanan yang riuh kendaraan itu tak mampu membuat hatinya jauh dari rasa sepi. Tak ada yang didengarnya selain suara detak jantungnya sendiri. Sejak pagi hari, yang dilakukannya masih sama: minum kopi. Tumpukan berkas di ujung meja senantiasa menanti. 

Terdengar suara ketukan pintu. Tanpa menunggu jawaban, seorang wanita muncul dengan wajah ragu. Pria itu hanya memperlihatkan senyum kecut dan lambaian tangan untuk menyuruhnya berlalu. Ia tahu, wanita itu hendak bertanya tentang berkas-berkasnya lagi. Ruangan kembali sunyi. Ia kini sibuk menekuri cangkir kopi. 

Tahun ini, ia sudah memasuki pertengahan limapuluh. Usia yang terlalu tua bagi yang senang berhaha-hihi, tetapi cukup matang untuk orang yang berusaha berdiri dengan kaki sendiri. Bagi seorang karyawan, pertengahan lima puluh berarti kebebasan menguasai dirinya sendiri setelah bertahun-tahun menjual waktu kepada mereka yang memberi jaminan hidup layak setiap hari. Sedangkan bagi pengusaha, pertengahan limapuluh bisa berarti masa jaya, di mana ia masih sanggup untuk bekerja tapi juga sudah dapat menikmati hasilnya. 

Namun, bagi pria yang tengah menekuri cangkir kopi itu, pertengahan limapuluh ini menjadi masa penghabisan. Tigapuluh tahun sudah ia bergelut dalam usaha ini. Meski ia tak pernah menjual waktunya pada siapapun, namun sang waktu itu juga yang mengantarkan usahanya pada ketiadaan. 

Di salah satu sisi meja kerjanya, sebuah pigura sederhana tampak bangga karena menyandang tugas begitu penting: membuktikan pada dunia bahwa keluarga yang kini tercerai-berai itu pernah bersatu dalam tawa bersama. Di foto itu, ia terlihat begitu bahagia bersama istri dan kedua putranya.

Wanita paling cantik itu adalah istri satu-satunya yang sangat ia cintai. Wanita dengan senyum menawan itu tak pernah bosan mendampinginya di kala merintis usaha. Sepuluh tahun sudah wanita cantik itu pergi, tapi suara tawanya yang renyah masih sering menghantui. Hingga kini, ia masih selalu berharap bahwa wanita itu akan datang lagi ke dalam pelukannya. Namun, Tuhan pasti menahan wanita cantik itu untuk kembali. Dan, Tuhan tak pernah memberinya pengganti.

Tangan yang pucat seperti tak kenal matahari itu meraba wajah seorang pemuda yang sedang tertawa lebar di foto itu. Putra sulungnya itu terlihat begitu bangga memamerkan piala kemenangannya. Ia masih sangat kecil waktu itu, tapi bakat seninya kuat sekali —menurun dari ibunya. Lukisan yang dipegang oleh pemuda yang lebih kecil di sampingnya itulah yang membawanya menjadi juara pertama. 

Lukisan itu, ya, lukisan itu pernah dipajang di salah satu sudut dinding ruang keluarga di rumahnya yang mewah. Tapi, jangan tanya lagi di mana keberadaannya saat ini. Lukisan itulah perlambang hancurnya hubungan antara ayah dan anak itu. Beberapa tahun yang lalu, dengan tangannya yang pucat itu menghancurkannya hingga berkeping-keping. Sejak saat itu, tak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Putra mahkotanya itu telah pergi membawa impiannya untuk menjadi pelukis besar. Ia enyah dari rumah, dan tak ada yang tahu apakah akan kembali. Kemarahan yang tersisa dari pertengkaran itu tak pernah habis di hatinya. Ego dan keyakinan bahwa pemikirannya jauh lebih benar dibandingkan dengan keinginan anak yang dianggapnya belum tahu apa-apa itu membuatnya tak pernah berusaha mengalah dan memaafkan. Ia bahkan tak pernah mencari tahu bagaimana keadaan anaknya itu setelah pergi dari rumah. 

Harapannya lalu tertumpah pada anak bungsunya. Pemuda malang itu hampir terenggut cita-citanya akibat hasrat sang ayah yang ingin membuktikan bahwa kebenaran adalah miliknya. Ia tak mengizinkan si bungsu mengikuti kegiatan apapun yang dianggapnya tak penting. Ia mengharuskannya belajar dan terus belajar agar mendapat peringkat yang terbaik di kelasnya. Ia rela merogoh kantongnya dalam-dalam untuk membiayai si bungsu kuliah di luar negeri, selepas dari pendidikan tingkat atas. Hanya jurusan bisnis yang diperbolehkannya, lain tidak. Ia tersenyum bangga ketika mengantarkannya menuju terminal pemberangkatan internasional. Bersamaan dengan terbangnya pesawat yang membawa pergi putra bungsunya itu, terbang pulalah harapannya yang tersisa. 

“Selamat ulang tahun, Pa. Semoga panjang umur dan sehat selalu!” Hanya pesan singkat itu yang selalu dikirimkan oleh si bungsu setiap tahunnya. Hanya itu saja. Hanya pesan saja yang datang. 

Hingga bertahun-tahun kemudian, ia hanya bisa menunggu dan menunggu. Ia telah mendengar kabar bahwa anak bungsunya itu telah menyelesaikan studi dengan gemilang. Uang yang secara rutin ia kirimkan pun telah beberapa kali dikembalikan kepadanya. Alasannya, si bungsu sudah mendapatkan pekerjaan dari sebuah perusahaan ternama di negara itu. Kini ia hanya memiliki harapan kosong bahwa anaknya itu akan pulang. 

Cangkir kopi di tangannya kini hampir kosong. Di usianya yang pertengahan limapuluh, ia baru menyadari bahwa kisah “usaha tanpa generasi penerus” bukanlah hanya bualan para pengarang yang menginginkan kisah tragis untuk menarik minat para pembaca. Bahkan, kini para peneliti pun tertarik dengan kisah itu. Ia pernah membaca sebuah berita tentang survei oleh salah satu universitas di Shanghai yang menyatakan bahwa lebih dari 80 persen ahli waris China tidak tertarik untuk mengambil kendali bisnis orangtua mereka. Tak hanya itu, studi yang dilakukan oleh asosiasi perusahaan swasta China juga mengungkapkan hal serupa. Alasannya, orang-orang muda lebih memilih jalan mereka sendiri; mereka sibuk mengejar mimpi masing-masing, dan tentu saja mereka juga menolak karena adanya tekanan. Rasanya, fenomena itu juga yang menghampiri kehidupannya. 

“Anakmu bukanlah milikmu…mereka adalah putra-putri Sang Hidup…yang rindu akan dirinya sendiri….” tiba-tiba terdengar suara seseorang berdeklamasi karya Kahlil Gibran di kepalanya. Dan, di usianya yang pertengahan limapuluh itu, dengan senyum getir ia harus mengakui bahwa otak manusia bisa begitu bebal karena tidak mempercayai sesuatu yang telah diketahuinya, meski ia telah sering mendengarnya. Bagaimana otaknya bisa mengingat kata-kata itu padahal sesungguhnya ia tak pernah memahami apa maknanya? 

Bagaimanapun, zaman memang harus selalu berganti. Hidup tak akan cukup jika tak ada perubahan untuk menjadi lebih baik lagi. Sama seperti manusia yang tak boleh gampang berpuas diri. Dulu, ia pun setuju dengan anggapan itu, dulu sekali, sebelum akhirnya segala perubahan itu perlahan-lahan membuat usahanya seolah tak berarti. Segala yang dulu pernah jaya perlahan akan hilang tenggelam, tersapu oleh derasnya arus perubahan zaman. 

Lagi. Suara ketukan pintu terdengar. Kali ini lebih kasar daripada yang sebelumnya. Pintu terbuka, dan beberapa orang pria masuk dengan diiringi wajah ketakutan dari wanita yang rajin mengetuk pintunya. “Maaf…maaf, Tuan…saya tidak berani menolaknya,” ucapan terbata-bata dari wanita itu hanya ditanggapi oleh senyuman kecut oleh tuannya.

“Kami datang untuk memohon maaf atas nama bank, Pak,” seseorang segera angkat bicara setelah semuanya duduk di sofa besar buatan Eropa. “Kami ingin menyampaikan hasil diskusi kami dengan pihak direksi. Semuanya sudah kami upayakan. Tapi, seperti Bapak tahu sendiri, industri ini sudah tidak berkembang lagi. Teknologi sudah semakin maju, tak ada lagi anak muda yang menggunakan produk ini. Dari sisi modal kerja perhitungannya sudah tidak masuk, sudah tidak ada yang dapat kami biayai lagi. Kemungkinan dilakukan restrukturisasi pun sudah kami coba, hasilnya negatif. Proyeksi juga negatif. Pilihannya hanya dua: dilunasi atau lelang,” pria berkacamata yang paling muda di antara mereka membeo. Jelas di saat seperti ini, hal-hal demikian hanyalah teori yang tidak ada artinya lagi. 

“Ah, sudahlah, Bob. Aku kenal kau bukan setahun dua tahun. Justru karena kita sudah berteman sejak kau bahkan belum memulai usaha ini, jadi aku tahu betul yang kau butuhkan,” seorang pria berbaju hitam menyahut dengan nada yang lebih bersahabat. “Lepaskanlah…Apa yang masih kau pertahankan? Kau masih berharap anak bungsumu pulang, dan meneruskan usaha yang sudah lama redup ini? Ini hanya warisan omong kosong! Kasihan dia nanti hanya dapat memunguti puing-puing kejayaanmu yang sudah berlalu. Atau, kau memimpikan anak sulungmu datang dan mengakui bahwa kau yang benar? Buang kesombonganmu itu, sudah tak ada artinya lagi sekarang. Saranku, lepaskan!” 

Pria berkulit putih pucat itu diam sejenak untuk berpikir dan memantapkan hatinya. “Apa yang perlu saya lakukan?” tanyanya kemudian pada pria berkacamata. Ia tak terlihat ingin mendebat ucapan pria berbaju hitam yang mengaku teman lamanya itu.

“Berkasnya sudah kami siapkan semua, Pak. Ini beberapa dokumen yang perlu ditandatangani. Besok kami akan melakukan pengajuan proses lelang, kecuali jika Bapak masih ingin berupaya untuk menjual sendiri aset tersebut dengan menanggung angsuran dan bunga selama waktu yang diperlukan. Jumlah yang perlu dilunasi hanya 35% dari nilai taksasi atas agunan,” ucapnya yakin, masih khas ala anak magang yang baru saja menghafal teori. Ia pun menyodorkan berlembar-lembar berkas yang segera ditandatangani. 

Pria berbaju hitam itu berdiri dan mendekat padanya, lalu berbisik, “Sisa uang itu masih cukup kau gunakan untuk menikmati masa tuamu. Pergilah ke tempat anak-anakmu!” Ia pun mengangguk pada tamu-tamu lain untuk mengajak mereka semua pergi.

Cangkir kopi itu telah benar-benar kosong saat ruangan telah kembali sepi. Melalui jendela, ia menatap langit yang telah menghitam. Ia pun menghela napas panjang, dan melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu untuk terakhir kalinya. Di depan pintu, seorang wanita melihatnya dengan pandangan pasrah. Sekali lagi, pria berkulit putih pucat itu melemparkan senyum kecut padanya, seraya mengangguk tanpa kata. 

Oleh : Valenka Ra

Sumber Detik.com 

Komentari dgn Facebook

About Newbie

Check Also

I LOVE YOU FOREVER

Spread the love I LOVE YOU FOREVER         Siang yang begitu melelahkan, hari …