Sabtu , Juli 21 2018
Home / Cerpen / Menghamili Reisa

Menghamili Reisa

Spread the love

Jakarta – Gadis itu menghubungiku minggu lalu. Ia meminta bertemu, berdua saja. Sebelum ini kami tidak pernah bertemu berdua. Kami selalu bertemu minum kopi usai acara sastra dan itu selalu beramai-ramai, minimal berempat. Maka aku belum menjawab keinginannya untuk bertemu berdua saja. 

Tetapi aku penasaran ada apa. Akhirnya aku menjawab email-nya dan mengatakan sebaiknya bicara lewat email saja jika memang sangat penting. Ia malah hanya membalas dengan satu kalimat tanya: 

Maukah Mas menghamili saya?

Aku lebih tidak tahu lagi bagaimana membalas email ini. Gadis yang tidak terlalu kukenal ini bertanya apakah aku mau menghamilinya? Apa ia sedang menguji apakah aku sama dengan lelaki-lelaki lain di jagad sastra yang senang memanfaatkan penulis-penulis perempuan muda yang sedang mekar? 

Baiklah, aku cukup mengenal dia. Setahuku gadis ini baik. Ia tidak pernah macam-macam. Maksudku, dari cara berpakaian dan cara bicara ia biasa-biasa saja. Karyanya juga biasa-biasa saja. Tidak bagus, tidak juga buruk. Aku pikir ia masih bisa berkembang jika ia fokus untuk terus berlatih. 

Pikiranku yang tadinya datar-datar saja tentang gadis ini jadi berubah seketika. Gadis yang biasa-biasa saja seperti itu berani mengajukan pertanyaan yang begitu berani. Siapa sesungguhnya ia? Apa tujuannya mengajukan pertanyaan itu? Tetapi aku malah mengetik kalimat ini:

Sepertinya kamu sedang banyak masalah. Tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja. Teruslah menulis.

Draft itu tidak jadi aku kirim. Aku menutup email, dan melakukan kegiatan lain yang biasa kulakukan. Dan, satu minggu berlalu lagi tanpa kabar darinya. Terus terang aku khawatir. Apa yang ia pikirkan saat aku tidak menjawab email-nya lagi? 

Dua minggu kemudian akhirnya aku menelepon dia. Aku tidak menyangka dia yang tidak pernah mampir di kepalaku justru menghantuiku selama hampir satu bulan ini hanya dengan pertanyaan apakah aku mau menghamilinya. Ini bukan soal mau atau tidak mau. Kami akhirnya bertemu, berdua, di kedai kopi yang jauh dari rumahku tetapi dekat rumahnya.

Aku datang lebih dulu dan memesan kopi hitam tanpa gula. Setengah jam kemudian ia baru datang dan duduk di hadapanku dengan mata yang terus menatap ke arahku. Lalu ia menundukkan pandangan dan kepalanya.

“Mau pesan apa?” Aku berusaha menyapanya sewajar mungkin.

“Samakan saja dengan Mas.”

Aku memesankan kopi hitam tanpa gula untuknya. Kali ini ia melempar pandang ke luar jendela, sebelum akhirnya menatapku lagi.

“Maafkan saya mengirimkan email seperti itu. Tetapi saya serius ingin dihamili Mas.”

Ternyata dia langsung ke pokok pembicaraan. Aku menghela napas panjang sebelum mengatakan sesuatu kepadanya.

“Aku pikir kamu bukan groupie. Dan, aku tidak pernah berharap punya groupie.”

“Ini bukan permintaan seorang anggota groupie. Saya tidak ingin ditiduri seperti groupie-groupie band yang senang ditiduri idolanya.” 

“Lalu apa maksudnya email itu?”

“Saya tidak ingin ditiduri. Saya ingin dihamili.” 

“Reisa, ini pertanyaan serius. Apa maksudmu mengirimkan email itu?” akhirnya aku berkata dengan nada agak tinggi. “Kamu ingin membuktikan apakah semua lelaki di jagad sastra sama brengseknya dengan lelaki-lelaki yang suka meniduri penulis perempuan muda dan lari dari tanggung jawabnya dengan dalih karena suka sama suka?” 

“Saya tidak ingin membuktikan apa-apa. Saya hanya ingin dihamili Mas. Ini urusan pribadi dan tidak ada hubungannya dengan kisah predator di jagad sastra yang tidak pernah diadili itu, atau predator-predator lain yang kebetulan beruntung karena korbannya tidak sampai hamil.”

Kami berdua terdiam sesaat. Kopi hitam miliknya datang. Aromanya memberi jeda untuk kami agar menikmati kedai kopi ini sebagai tempat minum kopi, bukan tempat berdebat.

“Saya tahu ini terdengar aneh. Seorang perempuan minta dihamili. Dasar sundal!”

Ia memaki dirinya sendiri. Aku menyeruput kopiku untuk menenangkan diri. Perbedaan penggunaan saya dan aku di obrolan ini memberi jarak yang membuat pertemuan ini jadi tidak sesantai yang aku kira.

“Kenapa kamu ingin dihamili?”

“Mungkin Mas menganggap karena Mas sekarang sedang sangat terkenal dan diakui karyanya di mana-mana maka saya memanfaatkan ini untuk kepentingan saya. Mencari sensasi supaya nama saya dibicarakan orang.”

“Aku tidak pernah menganggapmu begitu. Bisakah kamu berhenti menghujat dirimu sendiri?”

Ia melempar pandangan ke luar jendela. 

“Kenapa kamu sampai punya ide untuk aku hamili?” Aku kembali menanyakan itu.

“Saya ingin punya anak tapi tidak ingin menikah, tapi juga tidak bisa sembarangan dengan siapa saja. Saya juga perlu memikirkan siapa ayah biologis yang tepat. Maka saya berpikir Mas adalah lelaki yang tepat.”

“Kenapa aku?”

“Karena saya pikir Mas lelaki baik. Mas juga pintar. Anak saya akan mewarisi kecerdasan ayah biologisnya.”

“Kamu punya pacar?”

“Pernah punya.”

“Kenapa waktu itu tidak minta dia menghamili kamu?”

“Sudah. Tetapi baik dia maupun mantan-mantan saya yang lain selalu takut menghamili saya.”

“Mereka merasa belum sanggup bertanggung jawab?”

“Ya. Dan, ide menghamili tanpa menikahi menurut mereka sangat gila. Padahal itu mudah saja. Hamili saya lalu pergi. Saya tidak akan membebani dengan meminta pernikahan. Sementara lelaki lain perlu dikejar-kejar dulu agar bertanggung jawab, saya dengan sukarela meminta untuk dihamili saja tetapi mereka menganggap saya gila dan mereka memilih meninggalkan saya.”

“Memang idemu itu sangat gila di negara ini.”

“Lalu saya harus bagaimana? Menunggu mereka semua siap menikah dulu baru saya dihamili? Saya ingin punya anak secepatnya.”

“Kenapa kamu ingin punya anak? Secepatnya pula! Punya anak itu tidak semudah yang kamu bayangkan. Itu tanggung jawab seumur hidup. Jangan karena keegoisan kamu ingin punya anak maka kamu menghadirkan satu manusia di dunia ini dan kemudian tidak tahu bagaimana bertanggung jawab terhadap kehidupannya. Banyak manusia seperti itu.”

“Saya ingin punya Reisa junior. Saya ingin punya penerus. Jika orang lain ada yang takut punya anak karena tidak tega menghadirkan dunia yang kejam ini kepada anaknya, saya justru ingin melahirkan anak yang bisa mengubah dunia. Apa itu salah? Perempuan seiring usia akan semakin sulit hamil dan melahirkan. Dan, saya ingin hamil dan melahirkan di usia yang cukup prima. Dengan begitu anak saya akan tumbuh dengan baik. Keinginan saya sesederhana itu.”

“Tetapi kamu tidak bisa memaksakan keinginanmu. Tidak semua perempuan ditakdirkan bisa hamil dan melahirkan. Ada yang rahimnya lemah hingga janinnya tidak bisa berkembang, ada yang memang tidak bisa hamil. Ada juga yang seperti kamu, tidak kunjung mendapat pasangan yang mengerti keinginanmu. Kamu tetap perempuan berharga meski tidak hamil dan melahirkan.”

“Tapi, saya ingin hamil dan melahirkan bukan karena tuntutan sosial. Karena saya memang ingin hamil dan melahirkan anak. Saya ingin punya keturunan.”

“Bagaimana jika itu memang tak akan pernah terwujud? Misalnya aku setuju menghamilimu tetapi aku tak pernah berhasil? Misalnya ternyata kamu tidak bisa hamil?”

Kali ini Reisa yang menghela napas berat. 

“Kita bisa periksa kondisiku dulu. Jika memang saya bisa hamil menurut dokter, kita bisa lanjutkan?”

“Bagaimana kalau menurut dokter kamu tidak bisa hamil atau tidak boleh hamil?”

“Saya tidak mau berandai-andai. Mau kita periksa sekarang?”

Aku memilih diam dan menyeruput kopiku lagi. “Kamu bisa jadi ibu tanpa harus hamil dan melahirkan. Kamu bisa mengadopsi anak.”

“Lelaki tidak akan mengerti bagaimana rasanya bisa hamil dan melahirkan anak dari rahim sendiri.”

“Oke, tenang dulu. Saya minta maaf. Katakanlah anak ini akhirnya lahir, entah lelaki atau perempuan. Bagaimana jika suatu hari ia menyalahkanmu karena telah melahirkan dia sebab ia memilih untuk tidak pernah dilahirkan karena ternyata dia membenci kehidupan?”

“Saya akan meminta maaf kepadanya karena saya telah menjadi ibu yang gagal. Saya akan membantunya untuk kembali mencintai kehidupan tetapi jika ia pada akhirnya memilih bunuh diri, saya harap itu pilihan yang memiliki alasan-alasan mendalam.”

“Kamu memang gila.”

“Jadi, setelah wawancara ini, kesimpulannya Mas mau atau tidak menghamili saya?”

Aku tertawa. “Kenapa kamu menanyakan itu seperti bertanya aku mau minum kopi atau tidak?”

“Karena hal ini memang sesederhana itu. Mas mau atau tidak?”

“Buat saya ini tidak sesederhana itu.”

“Tapi, bisa jadi sederhana kalau Mas memang dari awal mengatakan tidak tertarik.”

“Bagaimana kalau lelaki yang ingin menghamili kamu ternyata ingin menikahi kamu juga? Sebab kamu bilang kamu ingin punya anak tanpa menikah?”

“Mas mau menikahi saya?”

“Bukan saya.”

“Dari tadi Mas terus berandai-andai. Saya sudah muak, Mas. Kalau pertemuan ini hanya untuk menunjukkan bahwa keinginan saya adalah hal paling absurd sedunia dan saya adalah perempuan gila, saya rasa sudah cukup. Saya tidak gila. Keputusan ini saya ambil dalam keadaan sadar.”

“Saya hargai keputusan kamu untuk ingin punya anak tanpa menikah. Tetapi, apakah kamu sudah memikirkan bagaimana anakmu tumbuh tanpa kasih sayang ayah?”

“Saya bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuknya. Banyak single parent di dunia ini, dan anak-anak mereka tumbuh normal-normal saja. Malah yang ayah-ibunya lengkap belum tentu anaknya merasa utuh.”

Aku mengangguk setuju.

“Jadi, mau atau tidak?” ia mengajukan pertanyaan itu lagi.

“Kenapa kamu ingin punya anak tanpa menikah?”

“Saya tidak percaya pada pernikahan. Orangtua saya sudah menikah 30 tahun, dan akhirnya berpisah juga karena merasa tidak ada kecocokan. Tidak ada kecocokan tapi bisa punya empat anak dan tiga cucu. Aneh. Saya melihat sendiri bagaimana dua orang yang pernah saling mencintai menjadi dua orang yang saling membenci. Kenapa ego mereka bisa mengalahkan kebersamaan selama 30 tahun? Dan, sekarang mereka berlomba-lomba untuk saling menyakiti, saling membalas dendam atas ketidakbahagiaan mereka dan menyalahkan satu sama lain. Konyol.”

“Itu sebabnya kamu berpacaran hanya mencari lelaki yang bersedia menghamilimu tanpa perlu menikah?”

“Ya. Dan, saya gagal.”

“Seharusnya kamu bersyukur karena kamu tidak pernah berpacaran dengan predator.”

“Saya tidak mengerti.”

“Karena hanya predator yang bisa menghamili perempuan tanpa bertanggung jawab. Bagi aku dan mantan-mantanmu, menghamili perempuan tidak sesederhana menidurinya saja. Menghamili perempuan berarti menciptakan makhluk baru di dalam rahim dan menghadirkannya di dunia. Meski kamu berkeras ingin membesarkan anak itu sendirian, dan berjanji tidak akan meminta tanggung jawab kami, aku sendiri, pasti akan terus memikirkan anak itu. Aku pribadi tidak akan bisa melakukannya karena bagaimana pun anak itu adalah darah dagingku sendiri. Aku tidak akan tega membiarkanmu berjuang sendirian. Sekeras apa pun kamu menolak bantuanku, aku akan terus ingin bertanggung jawab pada kehidupan anak itu.”

“Saya mengerti sekarang.”

“Jika aku menolak tawaranmu bukan karena kamu tidak menarik. Tetapi, aku tidak ingin memiliki dua anak dari dua perempuan berbeda meski ada satu anak yang tak perlu kupikirkan masa depannya. Aku tidak akan pernah bisa melakukan itu. Anakku adalah tanggung jawabku. Aku bukan predator.”

Untuk pertama kalinya aku melihat Reisa tersenyum di pertemuan ini. Ia menghabiskan kopinya lalu pamit pulang.

“Saya tidak salah mengidolakan Mas,” itu kalimat terakhirnya sebelum pergi.

Aku memandangi kepergian Reisa. Di mataku kini ia tidak lagi perempuan biasa-biasa saja. Menurutku ia perempuan kuat. Terlalu kuat untuk dipatahkan. 

oleh
Tenni Purwanti

Sumber Detik.com

Komentari dgn Facebook

About Newbie

Check Also

I LOVE YOU FOREVER

Spread the love I LOVE YOU FOREVER         Siang yang begitu melelahkan, hari …