Cerpen

Latifa dan Ingatannya

Spread the love

Jakarta – Mereka duduk di bangku panjang yang terlindung oleh sengatan sinar matahari. Pohon mahoni berkelompok-kelompok, mengimbangi cuaca yang panas dengan memberikan kesejukan di taman itu. 

“Jadi, tujuan utamamu datang ke kota ini adalah tempat ini?” tanya Efendi. 

Latifa mengangguk. Lalu pandangan matanya mengitari taman. Tidak banyak yang berubah, kecuali pohon-pohon itu yang tampak lebih banyak dan beberapa mudah dijangkau oleh tangannya, setidaknya ketika ia berusaha melompat untuk menyentuh ranting-rantingnya. Dulu, pohon-pohon itu tampak begitu tinggi bagi Latifa. 

Pada sore hari, taman selalu lebih ramai. Orang-orang berdatangan. Mereka berlari-lari kecil atau berjalan tanpa alas kaki di sepanjang jalan setapak yang mengitari taman. Beberapa akan duduk-duduk di bangku panjang, membaca surat kabar atau buku. Beberapa akan melingkar di atas rerumputan taman yang lembut, berbincang, dan menikmati kudapan. Satu dua orang akan duduk sendiri-sendiri, merenung atau berusaha memahami keadaan dengan diam. Satu dua orang akan mulai saling menyalahkan, saling mengutuk, berpisah, dan pergi meninggalkan taman seraya bersumpah tidak akan kembali lagi.

“Kamu tahu, Fen,” ujar Latifa tiba-tiba, “di sekitar tempat itulah sepasang suami-istri muda pernah meninggalkan seorang bocah.” 

Latifa mengatakan itu sembari menunjuk sebuah pohon angsana yang menyendiri di sudut taman. Efendi mengikuti arah telunjuk Latifa. Sebuah bangku tua terpacak sendirian di bawah pohon angsana. Pohon itu sepertinya adalah pohon paling tua. Dahan-dahannya mulai mengering dan ranting-rantingnya banyak yang tidak berdaun lagi. 

“Aku seperti pernah mendengar seseorang yang bercerita kepada yang lainnya. Tapi itu dulu sekali. Mungkin ketika aku masih kecil. Sangat kecil, kukira.” tanggap Efendi. 

“Apa ibu pernah menceritakan itu kepadamu?”

Efendi mencoba mengingat-ingat dari mana ia pernah mendengar cerita serupa itu. Tapi ia tidak berhasil mengingatnya.

“Aku pikir, ibu tidak perlu menceritakan kemalangan bocah perempuan itu,” gumam Latifa.

“Maksudmu, ibulah yang menceritakan kisah itu padamu?”

“Bukan. Bukan seperti itu. Ini kisah yang sebenarnya,” jawab Latifa.

“Iya?”

“Iya, karena akulah bocah perempuan malang itu!” tegas Latifa. 

***

Itu sore seperti biasanya. Pengunjung taman sedang menikmati akhir pekan yang ringan. 

“Besok aku pergi dari kota ini.”

“Pergi saja! Di sini pun kamu tidak ada gunanya.”

“Kenapa tidak pergi dari rumah itu? Tinggal di tempat lain, sampai aku kembali.”

“Kamu bodoh, ya? Kalau aku pergi siapa yang akan membersihkan kencing laki-laki tua itu?

Sore yang semestinya ringan itu tidak tergambar pada wajah sepasang suami-istri muda yang sedang duduk di bangku panjang di sudut taman. Laki-laki muda itu mengisap rokoknya berkali-kali. Sementara pasangannya, memilih bertopang dagu sambil sesekali mengawasi bocah perempuan yang sedang bermain sendiri di bawah pohon angsana.

“Dia bukan ayahku sejak meninggalkan ibu. Kenapa harus repot-repot mengurusnya?”

Laki-laki muda itu menyulut rokoknya yang ke sekian, lalu berdiri, mondar-mandir di depan pasangannya. “Aku tahu sekarang,” ujarnya kemudian. “Kalau aku perhatikan, wajahnya lebih mirip laki-laki tua keparat itu ketimbang aku. Lagi pula aku selalu pergi, kan? 

Laki-laki muda itu membuang rokoknya lalu bergegas mendekati bocah perempuan tiga tahunan yang sedang bermain. Laki-laki muda itu membungkuk, lalu mengangkat tubuh bocah perempuan itu sebelum kemudian menatapnya tajam-tajam dan berujar, “Hai bocah, kamu selalu bermain sendiri ya? Sementara aku, selalu pergi.” 

Bocah perempuan itu meronta-ronta. Laki-laki itu melepaskan cengkeramannya lalu kembali duduk di sisi pasangannya. Perempuan muda itu tiba-tiba berdiri, mengawasi bocah perempuan itu dengan saksama, lalu berbalik menatap laki-laki muda yang sedang duduk memainkan sebuah pemantik. “Kamu di mana saat semua itu terjadi?” tanyanya kemudian.

Bibir laki-laki itu bergeming. Ia masih memainkan pemantik kesayangannya seolah hanya itu yang bisa dilakukannya sepanjang hidup.

“Kamu tidak tahu apa-apa soal bocah itu. Kamu adalah laki-laki paling dungu yang tidak mau tahu. Dungu, kamu tahu!” geram perempuan muda itu seraya berlalu. 

Untuk beberapa saat, laki-laki itu masih terdiam di tempat yang sama. Ia mengitarkan pandangannya ke antero taman dan merasa tidak menemukan apa-apa selain kemuraman. Lalu, seperti hendak menolak kenyataan, ia mengibaskan tangannya ke udara.

“Persetan!” ujar laki-laki muda itu seraya meninggalkan taman.

Hingga lampu-lampu taman menyala, sepasang suami-istri muda itu belum juga kembali. Sementara, bocah perempuan itu pun mulai menangis dan berjalan keliling. Pada saat itulah seorang ibu muda datang menghampiri bocah perempuan yang malang itu.

“Ibu muda itu bersama bocah laki-laki yang usianya kira-kira dua tahun lebih tua dariku. Bocah laki-laki itu kamu, Fen,” ujar Latifa menutup ceritanya.

“Aku tidak ingat apa-apa soal itu. Kamu bisa mengingat semuanya, ya?” tanya Efendi.

“Ini kutukan, Fen. Aku hyperthymesia*.”

Efendi mengernyitkan dahi. Ia menatap Latifa cukup lama seolah ingin memindai sesuatu di wajah itu. 

“Aku bisa mengingat semuanya, Fen. Ketika aku teringat masa kecilku, aku bisa terjatuh begitu saja seolah-olah ada yang menarikku dan membawaku masuk ke masa itu. Aku bahkan bisa mengingat kapan pertama kali kamu menciumku.”

“Kamu yakin?”

“Itu beberapa hari setelah Bibi Helena yang akhirnya kupanggil ‘mama’, datang.”

“Yang aku ingat tiba-tiba kamu pergi bersama Bibi Helena.”

“Di teras, kita bersalaman, lalu kamu mencium pipiku.”

“Seperti itu ya?” tanya Efendi. “Ada yang jatuh dari lantai atas, meninggal….”

Efendi tidak melanjutkan kata-katannya. Lamat-lamat ia teringat potongan-potongan kejadian: seorang laki-laki—ayahnya—yang sering marah dan tergesa-gesa.

“Itu dua minggu setelah ayah meninggal. Usiamu sembilan tahun ketika itu.”

“Dia laki-laki yang pemarah. Aku pernah melihatnya menampar ibu. Tapi seingatku, dia sering menggendongmu, ya?”

“Iya….” jawab Latifa lirih.

“Aku hanya ingat sedikit,” kata Efendi. “Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa hidup ayah harus berakhir seperti itu, ya?”

Latifa mengambil sebotol air mineral dari dalam tote bag-nya. Saat ia mengguyur tenggorokannya dengan cairan bening segar itu, seorang laki-laki paruh baya melintas. Laki-laki itu menggandeng tangan seorang gadis kecil—mungkin usianya enam tahunan. Latifa teringat, dulu ayah—ayahnya Efendi—sering menggandeng tangannya dan mengajaknya ke lantai atas. Biasanya ketika mulai menaiki tangga, ayah akan menggendong Latifa. 

Sesampai di lantai atas, ayah akan mendudukkannya di atas pahanya. Ayah akan memberikan lolipop lebih banyak jika ia mau dipangku. Tapi ia selalu berhasil meloloskan diri dari ayah, hingga suatu hari ketika mata ayah berubah menjadi merah dan ototnya bertonjolan di mana-mana, ia merasa terdesak dan sangat putus asa. 

“Kamu pasti ingat ketika ayah berusaha membenahi jendela kaca itu, yang justru membuatnya terpeleset dan jatuh ke lantai bawah. Tapi aku sedang tidak di rumah,” ujar Efendi tiba-tiba.

“Aku di sana, Fen,” ujar Latifa dalam hati. “Aku tidak akan pernah memberitahumu kejadian yang sebenarnya. Karena itulah ibu akhirnya melepaskanku untuk hidup bersama Bibi Helena—adik dari ibu yang tidak memiliki keturunan—semata-mata agar aku tidak dihantui oleh kejadian itu selamanya.”

Latifa mengingat dengan jelas semuanya. Sesaat sebelum kejadian itu, ayah memintanya untuk melakukan suatu hal yang tidak ingin diingat selamanya. Namun ia menolaknya. Saat itulah ayah terlihat sangat murka. Ayah mengejarnya hingga ia terpojok di sudut ruangan, di samping sebuah jendela kaca yang tidak terkunci dengan rapat. Ia sendiri yang akan meloncat ke jendela itu sebenarnya. Namun pada detik-detik terakhir, ayah menghambur begitu saja ke arahnya. Meski ia bisa menghindar dengan gerakan refleksnya, jendela kaca itu tidak bisa membendung tenaga ayah yang super kuat sehingga pecah berkeping-keping. Kepingan-kepingan tajam itu melukai tubuh ayah yang meluncur ke lantai bawah. Saat mobil ambulance dan sekelompok polisi datang, jantung ayah sudah berhenti berdetak. Keesokan harinya, di sebuah koran lokal ia sempat mengeja sebuah judul berita duka Seorang Instruktur Gym Terjatuh dari Lantai Atas.

“Kalau saja tidak ceroboh, mungkin tidak berakhir seperti itu. Kamu bisa mengingat detailnya dengan jelas kan?” tanya Efendi. 

“Iya, aku mengingat semuanya. Seharusnya dia lebih bisa menahan diri, Fen,” jawab Latifa dalam hati.

Laki-laki paruh baya itu duduk di bangku panjang di sudut taman. Tidak jauh darinya, seorang gadis kecil sedang memeragakan beberapa gerakan yang diulang-ulang—mungkin itu gerakan yang dipelajarinya dari kelas pantomime yang diikutinya. Sesekali, laki-laki paruh baya itu bertepuk tangan dengan gembira. Gadis kecil itu pun lebih bersemangat. Latifa memerhatikan semuanya. Ia mencoba mengingat-ingat saat-saat terakhir kebersamaannya dengan sosok yang bernama ayah. Tapi ia tidak menemukannya. Ingatannya tidak bisa menemukan yang seperti itu. 

Pagesangan, 15 Oktober 2017

Catatan:

*Hyperthymesia atau HSAM (High Superior Autobiographical Memory) adalah gangguan neuropsikologi yang sangat jarang yang ‘menganugerahkan’ penderitanya kapasitas memori yang luar biasa, sehingga bisa mengingat semua hal yang terjadi di masa lalunya.

Tjak S. Parlan lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Cerpen dan puisinya telah dikabarkan di sejumlah media, antara lain Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Femina, Media Indonesia, dan Republika. Kumpulan cerpen pertamanya Kota yang Berumur Panjang terbit Desember 2017. Mukim di Pagesangan, Mataram-Nusa Tenggara Barat. 

 olehTjak S. Parlan

Sumber Detik.com

Komentari dgn Facebook

Nyimak Tv Dulu