Cerpen

Dari Jendela di Cuaca yang Sempurna

Spread the love

Jakarta – Telepon berdering. Benjor tidak segera mengangkatnya. Dari jendela rumahnya, dia sedang sibuk memperhatikan cuaca: hari cerah. Minggu terakhir bulan September punya cuaca yang amat sempurna untuk perasaan bahagia. Sebentar lagi musim hujan datang dan musim kemarau pergi. Minggu terakhir bulan September jadi semacam waktu berdiskusi dua musim itu untuk menciptakan cuaca yang menyenangkan begini. Tidak terlalu panas dan kering, tidak terlalu dingin dan basah. Membuat orang jadi gampang melamun tentang hal-hal menyenangkan. 

Telepon terus berdiring. Benjor tidak kunjung mengangkatnya sampai tiba-tiba hening. Benjor menoleh ke arah telepon. Dia tidak terlalu yakin berapa lama telepon berdering. Dalam benaknya Benjor bertanya-tanya, barusan ada telepon? 

“Tidak ada,” sanggahnya sendiri. “Tapi mungkin ada,” sanggahnya lagi. Benjor menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian kembali memperhatikan cuaca.

Dari Jendela Benjor melihat anak-anak sedang memanjat pohon kers di depan rumahnya. Tidak jauh dari pohon kers itu, ada boks telepon umum. Kalau sedikit berusaha, siapapun bisa naik ke boks telepon itu. Di lingkungan rumah Benjor tidak banyak anak-anak. Benjor tidak terlalu tahu anak-anak itu datang dari mana –mungkin dari kampung di sekitar tempat tinggal Benjor, atau jauh-jauh datang dari pinggiran kota. Yang mana pun bisa saja. Yang jelas jumlah mereka banyak sekali. Anak-anak itu naik-turun pohon kers dengan begitu menakjubkan. Beberapa naik ke boks telepon kemudian melompat turun seolah-olah itu hal paling menantang yang pernah diciptakan Tuhan. 

Dari jendelanya Benjor mengangkat tangan, melambai-lambai ke arah anak-anak itu. “Hallo,” kata Benjor sambil berteriak. Semua anak-anak itu menoleh ke arah Benjor. “Hati-hati,” kata Benjor berteriak lagi. Anak-anak itu saling menoleh. “Hari yang bahagia,” kata Benjor. Anak-anak itu saling menoleh dalam gerakan yang lebih cepat dari sebelumnya. Setelah beberapa lama, tanpa menjawab pertanyaan Benjor, anak-anak itu kembali melompat-lompat dari boks telepon umum, naik-turun pohon kers dengan begitu menakjubkan. 

Sambil masih mengangkat tangannya Benjor menunggu jawabanan dari anak-anak itu. Tapi tak satu pun jawaban yang kunjung datang. Benjor mematung. Berapa lama, dia tak ingat. Diturunkannya tangannya. Ada yang menyusup masuk ke pikirannya. Tapi Benjor tidak terlalu yakin apa itu. Dilihatnya anak-anak itu. “Wah,” kata Benjor tiba-tiba. Benjor kembali diam beberapa saat. Ada suara dering telepon mengisi kepalanya. “Mungkin tadi ada telepon,” Benjor menggumam sendiri. “Tapi mungkin tidak,” sambungnya kemudian. “Siapa yang mau menelepon?” Benjor bertanya-tanya. “Ah! Jangan-jangan Jakob yang menelepon,” sambungnya kemudian setelah beberapa lama. Minggu terakhir bulan September punya cuaca yang amat sempurna untuk merasa bahagia.

Jakob adalah teman sejawat Benjor. Ketika Benjor pensiun beberapa waktu yang lalu dari perusahaan retail dan penerbitan tempatnya bekerja, Jakob-lah yang menggantikannya. Mungkin Jakob menelepon untuk menanyakan satu-dua hal yang belum beres, pikir Benjor. Tapi temannya itu sudah bersama Benjor selama hampir….selamanya. Mana mungkin ada yang belum diketahui Jakob. Tapi mungkin saja ada hal yang Benjor tahu sedang Jakob tidak. 

“Ada saja yang belum beres kalau ditinggal begini,” kata Benjor kemudian. Benjor melihat jam tangannya kemudian berjalan ke arah telepon. Benjor tahu sekarang Jakob pasti masih di kantor. Sibuk dengan kertas-kertas di dalam ruangan berukuran delapan kali delapan meter – ruangan yang dulu adalah ruangannya. Kalau menelepon ke nomor kantor, pasti sekretaris yang menjawab. Karena itu Benjor langsung menelepon ke nomor pribadi Jakob.

Di samping telepon ada setangkai bunga aster kayu biru dalam wadah kaca. Di dasar wadah kaca itu ada sedikit air yang masih menggenang, digunakan untuk mempertahankan hidup bunga aster kayu biru itu. Kenapa cuma setangkai? Benjor tidak tahu. Siapa yang menaruhnya di sana? Benjor juga tidak tahu pasti. Bisa jadi itu istrinya atau pembantunya. Tapi mungkin pembantunya. Kalau itu istrinya, Hermes atau Louis Vuitton akan lebih masuk akal untuk ada di sebelah telepon. Telepon dalam nada tunggu. Benjor menatap aster kayu biru itu. “Mulai layu,” pikirnya.

Telepon tersambung. “Iya, Hallo. Bagaimana?” kata Jakob di sambungan telepon. Dia memang selalu bertanya ‘bagaimana’ tanpa benar-benar jelas bagaimana apa yang ditanyakannya. 

“Ada apa?” kata Benjor.

“Maksudmu?”

“Tadi kau telepon?” kata Benjor. Sambil bertanya begitu, Benjor membayangkan Jakob sedang menelepon sambil menjepit telepon dengan bahu dan pipinya. Tangan kiri Jakob sedang sibuk berurusan dengan kertas-kertas sedang tangan kanannya sibuk dengan pena Parker seri Sonnet dengan lapisan emas. 

“Ha? Siapa?”

“Kau. Tadi kau telepon ke rumah? Ada apa?”

“Lho, bukan. Dari tadi sibuk. Kau apa kabar? Kapan-kapan mampirlah ke mari. Kita sedang ada tawaran bisnis baru dengan pabrik pembuat kadal plastik. Anak-anak zaman sekarang pasti suka. Prospeknya akan bagus. Tapi kalau kau lihat-lihat, mungkin kau ada pendapat lain.”

“Kadal plastik?”

“Iya. Kadal plastik.”

Benjor terdiam beberapa saat. Aster kayu biru di depannya tiba-tiba menyita perhatiannya. Aster itu bergoyang sedikit, mungkin karena angin –atau sesuatu yang lain. Salah satu kelopak bunga itu jatuh tiba-tiba. Terhuyung-huyung sampai akhirnya jatuh di atas meja. “Jadi tadi kau tidak telepon ke rumah?”

“Tidak. Siapa yang melepon?”

Benjor ingin menjawab pertanyaan Jakob tapi Benjor mendengar suara gagang telepon dipindahkan. Samar-samar Benjor mendengar suara pintu dibuka. Setelah itu banyak suara seperti suara kertas yang dipindah-pindahkan. Jakob sedang bicara pada seseorang. Dari suaranya, sepertinya lawan bicara Jakob adalah seorang wanita. Benjor mematung sambil tetap menempelkan gagang telepon ke telinganya. Aster kayu biru itu kembali bergoyang sedikit. Mungkin angin lagi, atau sesuatu yang lain. Salah satu kelopak bunganya kembali jatuh. Terhuyung-huyung sampai ke atas meja. Setelah beberapa lama, Jakob kembali bicara. Diulangnya pertanyaan yang sama. “Hallo. Tidak. Siapa yang menelepon?”

Benjor diam.

“Hallo,” kata Jakob.

“Iya, hallo. Bukan siapa-siapa. Tadi rasanya ada yang menelepon. Aku kira kau.”

“Bukan.”

“Baiklah.”

“Kapan-kapan mampirlah. Aku butuh saran untuk kerja sama dengan pabrik kadal plastik ini. 
Lebih baik kalau bicara langsung sekalian kau lihat-lihat keadaan baru.”

“Baiklah. Kapan-kapan aku mampir.”

“Ok. Baik.”

Jakob tiba-tiba menutup telepon tanpa mengucapkan sampai jumpa atau semacamnya. Dia biasa begitu. Benjor meletakkan gagang telepon ke tempatnya. Diam sejenak, dilihatnya jam tangan. Benjor teringat istrinya. Wanita itu harusnya sudah pulang sekarang. Istri Benjor dan pembantunya pergi sedari tadi. Mungkin berbelanja, atau mungkin yang lain –Benjor tidak terlalu yakin. Dilihatnya lagi jam tangan. Benjor menutup mata. Saat membuka mata, Benjor merasa dinding-dinding rumahnya bergerak menjauh dari dirinya. Aster kayu biru itu kembali bergerak sedikit. Salah satu kelopaknya jatuh lagi. Begitu tua dan menyedihkan, pikir Benjor. 

Benjor berjalan ke arah dapur dan mengambil segelas air keran untuk ditambahkan ke dalam wadah kaca tempat bunga aster itu. Diperbaikinya posisi bunga aster itu sampai dirasanya benar. Diambilnya tiga kelopak yang jatuh. Berjalan kembali ke dapur, Benjor meletakkan gelas pada tempatnya kemudian membuang tiga kelopak bunga aster itu ke dalam wastafel. 

Dinyalakannya keran wastafel. Tepat ketika menyalakan keran, Benjor melihat seekor laba-laba berusaha keluar dari lubang wastafel itu. Tapi, waktunya tidak bisa tepat. Keran telanjur menyala dan laba-laba itu tidak cukup gesit untuk keluar dari lubang wastafel. Benjor merasa bersalah. Ke mana perginya laba-laba itu dan tiga kelopak bunga aster kayu biru? Benjor bertanya-tanya. Kenapa pula dia membuang kelopak bunga ke dalam wastafel! Benjor mengurut pelipisnya. Sebentar lagi musim hujan datang dan musim kemarau pergi. Minggu terakhir bulan September jadi semacam waktu berdiskusi dua musim itu untuk menciptakan cuaca yang menyenangkan. Samar-samar Benjor mendengar suara anak-anak yang sedang bermain di luar.

Benjor kembali berjalan ke jendela. Anak-anak masih memanjat pohon kers dan beberapa yang lain masih melompat-lompat dari boks telepon. Melihat anak-anak itu Benjor tiba-tiba menyungging senyum. Diperhatikannya anak-anak itu. Beberapa anak naik-turun pohon kers dengan cara menakjubkan. Beberapa lainnya melompat-lompat dari boks telepon. Setelah lama mengamat-amati, Benjor menyadari salah seorang anak dari sekian banyak anak yang bermain itu ada di dalam boks telepon umum dan memencet-mencet tombol telepon. Jangan-jangan dia yang menelepon, pikir Benjor. “Hallo,” kata Benjor sambil berteriak. Melambai-lambaikan tangannya. Semua anak-anak itu menoleh ke arahnya, kemudian saling menoleh satu sama lain, kemudian kembali memanjat pohon kers dan melompat-lompat dari boks telepon –tidak ada yang menanggapi teriakan Benjor. Benjor menunggu, mematung. Minggu terakhir bulan September punya cuaca yang amat sempurna untuk perasaan bahagia.

Bayu Pratama lahir di Aiq Dewa, Lombok Timur, 2 Mei 1994. Belajar penulisan kreatif di Departemen Sastra Komunitas Akarpohon, Mataram 

Sumber Detik.com

Komentari dgn Facebook

Nyimak Tv Dulu