info Jogja Tips Unik Viral Wajib Nyimak

Yang Mau Lewat Jalan Cangar Wajib Baca Sisi Lain kota Cangar Batu Malang – Infokita.nyimakdulu.com

Spread the love

CANGAR BATU MALANG MOJOKERTO JAWA TIMUR DALAM 1.5 JAM

Cangar.
Buat anda bisa jadi nama wilayah ini tak asing lagi bukan.
Saya pribadi(penulis-red) beberapa kali mendengarnya, akan tetapi baru kemarin sore benar-benar tahu daerah yang ternyata memang cukup terkenal itu.

Pemandangannya keren abiss.
Halaaaah ….saya tak perlu bahas ini lagi, karna sudah banyak sekali ulasan bertebaran di mbah google.

Saya hanya ingin menceritakan sisi lain cangar yang bisa jadi belum pernah ditulis orang lain.

Singkat cerita :

“Jam 4 ya dek, kita memutar ya, lewat cangar, gak sanggup kalau lewat jalur tadi, sampai surabaya jam berapa kita nanti.” Kata suamiku tercinta.

“Mas tahu jalurnya kan?” Kata saya. Rada ragu sebenarnya.

Karena sependengaran saya cangar jalurnya berlikuk tiada tara.

“Pernah sekali lewat sana sama teman-teman kantor. Lagian ada map di mobil kok, ada juga googlemaps di hp.” Kata beliau.

“Ya sudahlah, awali bismillah, tapi nanti usahain keluar cangar sebelum petang ya mas? Kebayang aja kejebak di hutan malam-malam mas.” Jawab saya, masih ragu sebenarnya.

Tapi membayangkan muacet luar biasa seperti berangkatnya tak sanggup juga rasanya 🙁 hati ini. 😥😥

Dimulailah petualangan di cangar

– GUNAKAN SELALU GIGI SATU …!!!!!!!
Rambu2 itu entah berapa belas kali ada di sepanjang jalan cangar ini.
Saya lihat suami pasang gigi dua. Ah sudahlah, mungkin gigi satu terlalu lambat, pikir saya.

– WAJIB BERHENTI ..!!!!!!!!!
Begitu rambu berbunyi, sebuah rest area di arah turun dari cangar mengarah pacet yang cukup luas ramai terlihat kendaraan roda empat parkir.

Sebagian makan bakso dan melakukan aktifitas sekedar ke kamar kecil,dll.
Kami lanjut, kami pikir kenapa harus berhenti ya.
Kami kan harus segera keluar dari jalur indah namun mendebarkan ini.

Beberapa mobil yang berpapasan dengan kami berhenti di bahu jalan yang sempit. Berasap. Kami bercanda, “untung mobil kita fit ya…” -_-

Sampai tiba-tiba di sebuah jalur, sebuah motor mengejar kami.

Courtesi by Info Cegatan Jogja

“Pak berhenti! Kampas rem. Asap!”

Suami panik. Injak rem. Mobil kami tak mau berhenti, masih melaju walau pelan. Lalu kami berhasil berhenti di kiri jalan, namun karena di kiri adalah tebing, lalu oleh anak-anak muda kami diminta parkir di bahu kanan jalan.

Mereka sigap mengambilkan dua batu berukuran sedang untuk menahan mobil kami. Hanya satu meter saja antara aspal dan jurang.

Wow. Dada saya seketika itu juga berdegub kencang. Lalu saya dan suami keluar, saya menggendong rakhil anak lelaki saya, suami menggandeng raniya anak perempuan kami.

Saya masih tak paham apa yang sebenarnya terjadi, saya perhatikan anak-anak muda ini pakai kaos seragam. Oh, iya kaos tim SAR.

Saya layangkan pandangan ke sekitar.

Di belakang kami, sekitar 20 meter berjejer kendaraan roda empat merk  fortuner dan ertiga. Sepertinya sama mengalami yang kami alami  kejadiannya. Di depan kami, sebelah kiri, ada rest area mini, hanya bisa menampung sekitar 7 mobil sepertinya.

“Matikan mesin, nyalakan lampu hazard, tunggu 30 menit, nanti cek rem, baru mulai berangkat. Ya Pak?” Sapa ramah salah seorang pemuda yang menggunakan baju tim SAR.

Saya lirik jam di tangan saya, waduh. 17.00 wib. Setengah jam, berarti sebentar lagi petang menampakkan wajahnya.

Lalu kami ngobrol ala kadarnya dengan mereka. Dari obrolan itu saya tahu mereka anak-anak mapala, yang sedang ditraining untuk SAR. Mereka juga yang beberapa minggu lalu ikut evakuasi mobil tercebur di rolak songo.

Fortuner belakang kami pergi. Si ibu mengulurkan uang saat salaman. Serempak mereka menolak. Eyel2an terjadi. Dan si ibu kalah.

“Kami tak ada yang mau nerima uang Bu, kami niat tulus membantu.” Kata si mas yang ada di depan saya.

Saya benar-benar terkesima atas moment ini.

“Elf elf elf, minggir…” begitu perintah kawan-kawan mereka.

“Emang kenapa kalo elf mas?” Tanya saya.

“Mobil jenis itu yang paling banyak kecelakaan di sini Bu. Karena sebenernya kan memang mereka tak diperuntukkan untuk medan beginian. Remnya cepat panas. Mana muatan berat kan. Baru minggu lalu di atas sana (sambil nunjuk arah atas kami) kami mengevakuasi elf. Tangan sopirnya putus. Tus. Alhamdulillah tapi tak ada korban jiwa. Ngeri Bu.” Ceritanya.

“Awas, itu pajeronya berasap!!!” Kata si mas. Lalu kawan-kawan si mas mengejar dengan sigapnya.

“Stop pak, stop!” Kata mereka. Pajero pun ke rest area. Beberapa mobil mengalami hal yang sama. Rest area yang tadinya berisi satu mobil full juga akhirnya.

“Bapak sudah boleh meninggalkan sini, pelan2 tapi. Mari kita cek rem.” kata si mas.

“Gapapa mas kami tunggu sebentar lagi.” Kata suamiku. Rem depan memang masih hangat sekali saat saya raba.

Tiba-tiba. “Blong blong blong…! Avanza putih. Awaaaaas…! Teriak dari atas. Mobil di belakang avanza putih menekan bel berkali-kali. Avanza meluncur di atas kami. Andai setir ke kanan akan menabrak kami semua . Saat itu saya hanya ingat rakha, kami harus menjemputnya jumat esok. Apa jadinya jika kami harus tinggal nama? -_-

Qadarullah setir avanza lurus, menabrak mobil bak terbuka pembawa sayur di depannya. Mobil bak terbuka meluncur, tapi masih bisa direm. Lalu avanza oleng ke kiri. Avanza naik tebing, berjalan miring. Semua teriak. Allahu akbar. Lalu avanza menabrak mobil-mobil yang terparkir di rest area.

Terhenti di bawah sana. Padahal banyak orang berkerumun di sana. Teriakan-teriakan tak bisa saya gambarkan seperti apa. Sejurus kemudian suasana kocar kacir.

“Stop,stop! Semua mobil di atas berhenti! Kecelakaan di sini!” Kata si mas via handy talky.

Alamdulillah akhirnya semua terkendali. Hanya ada korban luka dan mobil penyok-penyok saja, kata masnya -_- saya dan suami tak berani ke sana, hanya menatap dari posisi kami keributan yang terjadi sekitar 100 meter dari kami.

“Alhamdulillah, masih aman itu Bu. Andai kejadian di bawah lagi, pasti habis mereka. Di bawah nanti ada dua tikungan tajam lagi. Kalau blong di sana, sepengalaman kami pasti meninggal.” Kata mas petugas, seragamnya beda. Pas saya tanya ternyata dia adalah petugas kecamatan. Memang tugasnya mengawal jalur maut ini. Dibantu mas-mas tim SAR.

Suasana mencekam. Hari mulai gelap.

“Kapan hari ada, kayak ibu. Si istri lagi hamil. Takut gelap. Belum 10 menit istirahat si istri maksa berangkat. Ya sudah kami gak bisa maksa. Lalu beneran, mereka terjun ke jurang, pas di bawah kita ini. Baru aja jalan padahal.”

“Meninggal?” Kata saya.

“Alhamdulillah masih selamat, masih hidup, kami yang evakuasi, tapi ya entah kemudian gimana kabarnya pas di RS.” Jawab si mas. Saya tambah deg-deg-an saja.

Tiba-tiba ada keributan lagi di atas kami. Salah satu isi ertiga ternyata kesurupan. Innalillahi… -_-

“Elf elf elf, berasap. Suruh berhenti!” Teriak atas. Lalu si mas mengejar. Si sopir elf menolak.

Masnya menyalakan HT, “monitor2, barusan elf berasap lewat, siap-siap bawah, menyingkir ya!”

“Aku pergi, elf harus dipaksa berhenti!” Kata petugas kecamatan.” Petugas kecamatan pun menyalakan motor lalu mengejar elf. Masya Allah. Saya hanya bisa terpana melihat kejadian ini. Tugas mereka-mereka ini sungguh luar biasa beratnya.

“Mas harusnya pakai toa ya untuk memberi aba-aba…” kata suami.

“Iya ya pak, tapi kami gak ada. Ya kalau ada yang menyediakan alhamdulillah. Selama ini ya kami modal suara saja.” Jawab si mas.

Suasana mulai gelap.

“Sampai jam berapa di sini mas?” Tanya saya.

“Sampai sepi Bu. Lha long weekend gini. Ya entah.” Jawabnya.

Seorang SAR bagi-bagi kotak roti pada kawannya.

“Mas, harusnya ada brosur yang dibagi pas jelang cangar. Kan bisa jadi yang lewat sini kayak kami, gak tau teori. Pede aja mobil baik-baik aja. Ternyata rem blong kan bukan masalah mobil jelek atau bukan. Tapi masalah panas atau nggak. Harus ada yang mengedukasi. Kami tadi gak paham kalau yang dimaksud wajib berhenti itu bukan masalah di rest area banyak yang jual makanan. Kami kira promo kayak di jalur pantura. Tapi ternyata urgent sekali rest area tadi, untuk memberi waktu rem adem dulu. Ya kami mana tahu…” kata saya.

“Ya siapa yang buat brosurnya Bu, modal dari mana. Kami makan pas piket di sini pun swadaya masyarakat saja…” jawab masnya sambil tersenyum ramah.

“Saya buatkan deh insyaAllah.” Jawab saya.

“Minta nomor masnya aja dek.” Kata suami.

“Gak usah Pak, Bu. Saya punya teman di UINSA. Namanya ikhya. Ibu titipkan ke ikhya saja kalau sudah jadi brosurnya. Kami tunggu ya Bu. Kami siap mendistribusikan brosurnya.”

“Nggih mas, siap.” Kata saya.

Lalu kami pun berpamitan. 18.30an. Satu jam setengah berdiri di tengah hutan. Satu setengah jam penuh pelajaran.

Semoga kisah ini bermanfaat untuk dibagikan. Khususnya yang hendak melewati cangar.

#SILAHKAN_SHARE_BILA_BERMANFAAT

Sumber : Info Cegatan Jogja

Di sunting oleh : Boby Pasaribu

Komentari dgn Facebook

Nyimak Tv Dulu